Hari minggu tanggal 11 September 2011, saya bersama sekitar 35 orang lainnya melakukan perjalanan ke Bukit Kapur Tinggi Raja
di Kabupaten Simalungun. Seluruh rombongan berkumpul di Stadion Teladan
Medan jam 6 pagi sekalian sarapan bersama. Perjalanan itu sendiri
dimulai sekitar jam 8 pagi yang dimulai dengan sesi foto bersama.
Ngitungin kendaraan yang akan berangkat, ternyata jumlah kendaraan yang
berangkat ada 19 kereta (kereta = motor) dan 1 mobil offroad untuk
mengangkut logistik. Sebenarnya peserta yang mendaftar cukup banyak,
namun pada hari H banyak yang tidak bisa ikut pergi karena satu dan lain
hal.
Bukit Kapur Tinggi Raja ditempuh dengan
perjalanan sekitar 3-4 jam perjalanan dari kota Medan dengan kecepatan
rata-rata 40-50 km/jam. Saya bersama rombongan sampai di lokasi tepat
jam 12 siang setelah ada beberapa insiden kecil dijalan seperti ada
beberapa orang yang terpisah dari rombongan, itu wajar dalam perjalanan
panjang. Perjalanan ini dipimpin oleh Bang Yovie dari Tim Jelajah Sumut
yang memang hobinya nyari lokasi-lokasi wisata di Sumut yang masih
segar (belum terekspose secara luas). Jalur yang dilewati beragam, ada
jalur mulus, jalur sedikit berbatu, sampai jalur ekstreme yang khusus
untuk kendaraan adventure. Rombongan ini sendiri malah banyak yang pakai
motor bebek dan matic, walhasil cukup menguras tenaga untuk melewati
jalur-jalur ekstreme tadi.
Perjalanan yang melelahkan langsung
terbayar setelah melihat ciptaan Tuhan yang begitu indahnya. Unik,
cantik, keren dan apapun itu membuat saya takjub dengan keindahan alam
ini. Saya tidak bisa menggambarkan bagaimana keindahan Bukit Kapur
Tinggi Raja itu sendiri, silahkan lihat koleksi photo yang saya minta dari Christina dan photo-photo yang saya miliki untuk menilainya.
Dilokasi ini terdapat 2 objek wisata
yang bisa didatangi sekaligus, karena jarak antar keduanya yang tidak
berjauhan. Disisi atas ada bukit kapur yang seperti salju dengan kawah
air panasnya dan disebelah bawah ada aliran sungai dingin tapi masih ada
bukit kapurnya yang mengaliri air panas. Dibeberapa titik kita akan
mendapati air yang panas dingin, karena tetesan air panas dari bukit
yang jatuh ke aliran air sungai. Menurut “si Mbah” sang juru kunci,
ternyata lokasi ini dulunya sempat akan dijadikan wisata cagar alam.
Tapi Mbah dan warga sekitar tidak mengizinkan karena akan ada
pengrusakan hutan dalam proses pengembangan itu.

Komentar
Posting Komentar